Sekolah yang Memerdekakan
Ini adalah pertanyaan paling penting yang terus dikaji oleh para filosof sejak dahulu kala. Agama, yang turun melalui wahyu kepada para Rasul, memberi jawaban yang pasti yaitu : untuk beribadah mengabdi kepada Tuhan.
Di dalam Islam, semua esensi tujuan kehidupan dapat dikembalikan kepada kalimat : Laa ilaaha illa Allah. Tiada tuhan kecuali Allah. Artinya, selama kita belum merdeka dari sesuatu selain Allah, maka kita wajib untuk membebaskan diri dari belenggu keterikatan itu. Misalnya, seorang muslim yang taat dan bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang sangat cukup. Suatu ketika dia diminta untuk menyuap pejabat dalam rangka memuluskan proyek yang diincar perusahaannya. Sebenarnya dia tidak mau, namun kalau dia tidak melakukan hal itu maka dia akan disingkirkan dari jabatan, bahkan mungkin dipecat. Pada situasi ini dia mengalami dilema antara taat kepada Allah dan taat kepada perusahaan yang sebenarnya hanyalah makhluk Allah. Karena tekanan ekonomi maka dia akhirnya terpaksa melakukan suap sesuai instruksi perusahaan. Maka dalam hal ini dia masih ‘terpaksa’ men-Tuhan-kan makhluk. Dia belum merdeka. Maka selayaknya dia berupaya mengusahakan dirinya -walau secara perlahan- untuk bisa bebas dari belenggu tersebut, misalnya dengan memilih jabatan lain, atau bahkan memilih pekerjaan lain. Upaya memerdekakan diri ini adalah sebuah jihad yang amat mulia.
Dalam semua segi kehidupan senantiasa ada tantangan untuk memerdekakan diri dari keterikatan terhadap makhluk. Yang paling nyata adalah terbebas dari kemiskinan yang menyebabkan seseorang terpaksa tunduk pada keinginan makhluk lain. Karena tidak punya uang, maka dia dapat dipaksa untuk melakukan perintah yang melawan perintah Tuhan. Dia tidak mampu untuk menjalankan Laa ilaaha illa Allah. Ikhtiar seseorang untuk menjadi berkecukupan dengan jalan yang halal menjadi bernilai jihad fii sabiilillah.
Setelah seseorang merdeka dari belenggu makhluk, maka tujuan ultima manusia adalah beramal saleh. Pada tiap tingkatan status manusia - baik ekonomi, politik, pengetahuan, dan segala hal lainnya - seseorang senantiasa dapat beramal saleh, sesuai dengan kemampuannya. Semakin merdeka kondisi seseorang (pengetahuan, ekonomi, politik, dsb) semakin mungkin ia beramal untuk masyarakat dan alam semesta. Seorang yang pandai membuat peralatan rumah tangga, dia beramal dengan memudahkan banyak pekerjaan rumah tangga setiap keluarga. Seseorang yang merdeka karena kaya, dia dapat menyumbang lebih banyak untuk kemaslahatan umat. Bahkan seseorang yang sehat, merdeka dari sakit, dapat berAmal dengan tubuhnya yang sehat tersebut. Semakin merdeka seseorang semakin berpeluang ia untuk beramal saleh. Itulah tujuan akhir dari tercapainya kemerdekaan seseorang.
Sekolah yang Memerdekakan
Sampailah kita ke pertanyaan penting bagi para pendidik : lalu apa tujuan dari sekolah? Jawaban yang umum adalah : agar bisa bekerja. Jawaban ini bila terus dilanjutkan dengan pertanyaan “mengapa?”. Akan bermuara pada tujuan akhir dari semua hal yaitu beribadah kepada Tuhan. Misalnya, mengapa bekerja? Agar dapat uang. Mengapa? Agar bisa hidup layak. Mengapa? Agar bisa hidup nyaman. Mengapa? ….. Agar bahagia. Bahagia dalam petunjuk agama dapat dicapai ketika seseorang merasa hidupnya berarti, memberi kontribusi kepada alam semesta, menjadi dekat dengan Tuhan.
Kita dapat menyempurnakan jawaban di atas dengan berbagai jawaban yang esensinya sama : Agar dapat beramal lebih banyak (dengan tujuan mengabdi kepada Tuhan). Agar bisa mandiri (dengannya dapat beramal). Agar mampu merdeka (tidak lagi men-Tuhan-kan makhluk, hanya takluk kepada Allah).
Jadi tujuan utama sekolah adalah : memerdekakan.
Dimerdekakan dari apa? Dari semua hal yang menyebabkan dia tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai manusia yang sebaik-baiknya. Karena itulah sekolah mengajarkan ketrampilan agar sesorang bisa mencipta. Tujuan awalnya supaya dia dapat bekerja, mandiri secara ekonomi, dan akhirnya bisa beramal untuk sesama. Sekolah juga mengajarkan untuk bergaul, agar sesorang merdeka mampu menempatkan dirinya dalam masyarakat, tujuan akhirnya dapat beramal sosial. Sekolah juga mengajarkan agama, tujuannya agar memiliki pegangan nilai dalam hidup, merdeka dari kebingungan dalam menjalani hidup, tujuan akhirnya dapat beramal.
Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membuat seseorang menjadi mandiri, menjadi merdeka.
Dengan demikian bila setelah sekolah seseorang belum mandiri berarti sekolahnya gagal! Sudah sarjana tapi masih nganggur, berarti sekolahnya gagal. Sudah bisa matematika, tapi tidak tahu gunanya apa, berarti sekolahnya gagal. Sudah pintar, tapi korupsi, berarti sekolahnya gagal. Artinya pada sebagian hal boleh jadi dia sudah lulus, dalam hal lain dia masih belum lulus.
Tujuan Sekolah
Kita dapat mengevaluasi sistem pendidikan dengan melihat kualitas lulusannya. Bila lulusannya pintar-pintar, tapi sikapnya kasar, kurang empati, sulit bersosialisasi, maka berarti sekolah tersebut berhasil di IQ, namun gagal di EQ.
Pertanyaan awal yang perlu dirtenungkan adalah : setelah bersekolah maka siswa akan mandiri dalam hal apa saja?
Masalah ini yang akan dijawab dengan model SEPIA.
Terdapat banyak sekali potensi kemampuan manusia, dari ketrampilan pertukangan, filsafat, hingga kemampuan menciptakan humor. Dengan demikian terdapat banyak hal yang dapat dikembangkan dalam diri anak didik. Pertanyaannya adalah : mana yang paling penting?
Model SEPIA mengajukan 5 wilayah keceerdasan yang paling penting agar seseorang bisa mencapai bahagia dan sukses. Lima wilayah kecerdasan itu adalah :
- Spiritual : kemampuan mengenali dan mengelola nilai-nilai
- Emosional : kemampuan mengenali dan mengelola emosi
- Power : kemampuan mengenali dan mengelola kekuatan
- Intelektual : kemampuan mengenali dan mengelola daya cipta
- Aspirasi : kemampuan mengenali dan mengelola keinginan/aspirasi
Kelima wilayah kecerdasan tersebut dirumuskan setelah mempelajari tokoh-tokoh yang telah memberi kontribusi kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia. Dari rasulullah Muhammad saw, hingga Thomas Alva Edison pencipta bola lampu. Dari Aristoteles filsuf Yunani, hingga Sun Tzu ahli perang Cina. Semua faktor-faktor yang memungkinkan prestasi luar biasa mereka itu dapat dikembalikan ke model 5 kecerdasan utama SEPIA. Jadi kita dapat berharap dengan mengembangkan 5 kecerdasan tersebut, seseorang bisa mandiri untuk memberi kontribusi amal positif bagi kehidupan. Dengan demikian SEPIA menjadi acuan jenis kecerdasan mana yang penting untuk dikembangkan melalui sekolah.
SEPIA adalah acuan “APA yang harus dikembangkan” dalam diri anak didik untuk bisa mencapai kemandirian. Sedangkan “BAGAIMANA mencapainya” merupakan metode yang dapat dipilih dari berbagai metode pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Berbagai metode pengajaran seperti active learning, quantum learning, multiple intelligence, super memory, collaborative learning, creative learning, SAVI, Brain Gym, dsb dapat digunakan dengan tujuan akhir yaitu mengembangkan 5 kecerdasan SEPIA.









Saya usul pada sekolah2 agar jgn bangga pada murid yg pinter (nilainya bagus2..!!) cukup hargai saja, bebrbanggalah pada murid yg bertanggung jawab seperti pada ketua kelas, ketua OSIS krn mereka punya EQ yg baik, tapi belum tentu pada murid yg IQ baik punya EQ baik pula.Kembali pula pada “akhir yg baik” tentunya…..!!!
Comment by Rony Prasetya — December 8, 2005 @ 8:55 am
Daniel Goleman: 20% IQ, 80% EQ…?
Ini sekolah yang menerapkan 5 Kecerdasan alamatnya di mana..?
saya ingin memasukan anak saya ke sekolah yang juga menerapkan kecerdasan selain IQ…
::: konsep sepia diterapkan di TK mentari di puri cipageran indah 2 cimahi bandung. namun sy kira kita bisa menggunakan analisis sepia utk menimbang sekolah yg sesuai bagi kebutuhan anak kita.
Comment by Eep — May 18, 2006 @ 12:53 am
so nice
Comment by ravindren — November 29, 2007 @ 2:05 am
pada dasarnx belajar itu kan pengenalan,pengertian,penalaran,dan pengambaran atau fisualisasi …ada membaca,menulis,dan berhitung sbgai dasar mau dibawa kemana saja nantinx….
Comment by didie — October 28, 2010 @ 3:59 am