Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Sekolah yang MemerdekakanPanduan Merekrut Orang »

August 14, 2005

Memilih Profesi : Menjadi Landak


The fox knows many things, but the hedgehog knows one big thing.
Archilochus (7th-century b.c.e.)

landaknya Jim CollinsSebuah buku berjudul Good to Great yang terbit tahun 2001 memberikan wawasan baru bagaimana sebuah perusahaan bisa menjadi luar biasa. Ada lima ciri yang ditemukan oleh Jim Collins dan timnya dari riset selama 5 tahun terhadap 28 perusahaan terpilih yang diseleksi dari 1400 lebih perusahaan. Salah satu yang menarik adalah ‘konsep landak’ (Hedgehog Concept).

Kebanyakan kita adalah rubah (fox) yang mempunyai banyak talenta. Karena itu kita melakukan apa saja dan menyukai apa saja sehingga luput untuk mendapatkan apa yang paling penting dan unik dari diri kita. Perusahaan yang bertindak seperti rubah tidak pernah berhasil menjadi perusahaan besar, demikian kesimpulan penelitian Jim Collins. Justru perusahaan yang menemukan bertindak seperti landaklah yang bisa menjadi perusahaan hebat (great company). Saya kira demikian pula halnya dengan perjalanan hidup seseorang. Kebanyakan orang mampu melakukan berbagai hal, sehingga tidak menemukan kontribusi unik dirinya yang dapat menghasilkan prestasi luar biasa.

Jim Collins dan tim nya memberi tiga kriteria bagi suatu keunikan yang dapat menjadikan perusahaan (dan juga individu) untuk menjadi ‘great’ :

    1. Bisa menjadi yang terbaik. Apa yang Anda bisa menjadi yang terbaik di dunia? Hal yang sama pentingnya adalah apa yang Anda tidak bisa menjadi yang terbaik di dunia. Kebanyakan kita bisa sesuatu, namun kita tahu tidak akan menjadi yang terbaik dalam sesuatu itu. Intuisi kita tahu, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang lain, tapi terkadang kita takut untuk berpindah dari apa yang sudah kita lakukan sekarang. Bisa pada suatu hal tidak berarti dapat menjadi yang terbaik dalam hal itu. Sebaliknya, apa yang kita yakin kita bisa menjadi yang terbaik, boleh jadi saat ini belum kita kuasai penuh ilmunya. Yang penting adalah menemukan apa yang kita bisa menjadi yang terbaik di bidang itu.
    2. Menemukan kunci dimana bisa mendapatkan laba terbesar. Dengan menemukan di mana laba terbesar berada, maka strategi perusahaan dapat diarahkan ke bagian tersebut. Terkadang laba didapat dari marjin keuntungan yang besar, terkadang dari volume yang besar. Contohnya, rental komputer mendapatkan laba bukan dari sewa komputer yang hanya Rp 1000,- per jam, tapi justru dari printer yang Rp 500,- per lembar. Bayangkan kalau ada mahasiswa mencetak tugas akhir, berapa pendapatan dari printer tersebut? Lebih besar daripada sewa komputer. Dengan menemukan kunci laba maka akan terjamin berlangsungnya keunggulan, karena uang adalah ‘energi’ bagi banyak hal di kehidupan masa kini.
    3. Sesuatu yang Anda cintai untuk melakukannya. Anda punya ‘passion’ di sana. Kuncinya bukan berusaha menumbuhkan ‘passion’ tapi menemukan apa yang Anda punya ‘passion’ di situ.

Dalam bahasa Jim Collins :
To quickly grasp the three circles, consider the following personal analogy. Suppose you were able to construct a work life that meets the following three tests.
First, you are doing work for which you have a genetic or God-given talent, and perhaps you could become one of the best in the world in applying that talent. (“I feel I was just born to be doing this.”)
Second, you are well paid for what you do. (“I get paid to do this? Am I dreaming?”)
Third, you are doing work you are passionate about and absolutely love to do, enjoying the actual process for its own sake. (“I look forward to getting up and throwing myself into my daily work, and I really believe in what I’m doing.”)
If you could drive toward the intersection of these three circles and translate that intersection into a simple, crystalline concept that guided your life choices, then you’d have a Hedgehog Concept for yourself.

3 kriteria

Biar mudah dipahami akan saya berikan contoh sederhana. Tentu Anda kenal Hermawan Kertajaya, ahli marketing pendiri MarkPlus. Dulunya dia guru SMA, lalu berpindah menjadi konsultan marketing perusahaan rokok, lalu akhirnya terjun menjadi konsultan marketing. Untuk itu dia mengambil kuliah Harvard jarak jauh, dan terus mendalami marketing hingga menjadi yang terbaik di bidangnya. Hermawan menemukan ‘konsep landak’ bagi dirinya.

Seperti halnya Hermawan, Ary Ginanjar Agustian juga mempunyai perjalanan hidup yang mirip. Sebelumnya dia adalah dosen, lalu menjadi sales produk pager dan security box, lalu melakukan lompatan besar setelah merumuskan konsep ESQ. Ini menunjukkan bahwa apa yang kita sedang tekuni sekarang boleh jadi bukan konsep landak bagi kita, ada sesuatu di luar sana yang bisa menjadi konsep landak bagi kita. Maka, teruslah mencari.

Seringkali yang terjadi adalah kita menyukai sesuatu, bisa menjadi yang terbaik, tapi sayang tidak dapat menemukan dimana uangnya. Atau kita bisa mendapat uang dari sesuatu, bisa menjadi yang terbaik, tapi tidak punya passion. Terkadang pula punya passion, ada uangnya, tapi tidak bisa menjadi yang terbaik. Menjadi tantangan untuk menemukan hal yang memiliki ketiga ciri tersebut sekaligus.

Waktu kita di dunia ini terbatas. Bila memang Anda ingin memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini sekarang lah saatnya untuk mulai mencari kontribusi unik yang dapat membuat Anda menjadi sosok istimewa. Saya juga sama, masih terus mencari…

* sebenarnya sih, menurut saya rubah juga sudah menemukan ‘konsep landak’ yang paling cocok bagi dirinya, yaitu .. ya jadi rubah!

Anda dapat membaca tulisan Jim Collins di Hedgehog Concept. Tulisan lain yang menarik adalah The Fox and the Hedgehog.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

8 Comments »

    Gravatar Image
  1. itu boleh juga,
    i masih bingung sampai sekarang i mo menentukan pihan profesi, saat ini sy ingin merangkum dan menyempurnakan kemampuan saya dengan menlanjutkan pendidikan yang lebih tinggi

    pekerjaan terakhir karyawan konsultan perencana bangunan
    pendidikan comp arsitektur D1
    sma ipa biologi
    englis lumayan
    saya tertarik dengan lingkungan saat ini
    dan sekarang saya mahasiswa D3 T. Geologi konsentrasi T.Lingkungan.
    dan di benak / pikiran saya ingin memperkuat ilmu struktur. karena di diploma hanya sedikit saja. gimana ya,
    tolong bantu dong bila ingin data lebih lengkap dari saya bisa saya kirimkan lagi

    Thank ya


    ::: Kalau sekarang sudah bekerja, coba perhatikan sebenarnya keahlian apa yg saat ini benar-beanr membuat Anda dibayar? banyak sekali kegiatan di kantor yang sebenarnya tidak bernilai tambah. Ada sedikit kegiatan yang betul-betul membuat Anda dibayar. Apakah karena Anda nongol di kantor Anda dibayar? Apakah karena keliling kepada klien Anda dibayar? Atau karena menemani bos? Atau karena suatu ketrampilan tertentu yang orang lain tidak bisa? Setelah kita tahu di bagian mana kita dibayar, maka kita bisa berfokus untuk meningkatkan kualitas dari hal tersebut. Sebuah buku dari Brian tracy berjudul Focal Point, memberikan saran bagaimana kita bisa meningkatkan penghasilan dengan lebih sedikit waktu bekerja (sekedar untuk pengethauan, Brian Tracy adalah milyuner yang berangkat dari tukang bersih-bersih dengan pendidikan rendah.). Intinya adalh mencari “hal utama” (focal point), yaitu esensi inti dari pekerjaan kita yang dibayar mahal. Fokus di situ untuk mengerjakannya 2 kali lebih cepat (artinya waktu nganggur Anda menjadi 2 kali lebih banyak) dan kerjakan dengan kualitas 2 kali lebih baik (artinya, peluang Anda untuk maju dilihat dan dihargai orang lain meningkat 2 kali lipat).

    Brian Tracy tidak mengatakan bahwa pendidikan tak berguna, tapi yang penting adalah memilih pendidikan yang menunjang hal apa dari diri kita yang dihargai orang lain, itulah nilai tambah (added value). Saya kenal dengan seorang pejabat perusahaan seluler yang berangkat dari programmer biasa bukan lulusan kuliah. Saya mengenal beberapa orang lain lagi yang menjadi pimpinan perusahaan besar, padahal awalnya pendidikannya hanya setara SMA. Pendidikan penting, namun prestasi di tempat kerja dan pribadi yang disukai lebih penting di tempat kerja.

    Dengan pengalaman kerja dan pendidikan yang banyak (dan beragam), saya yakin sudah saatnya mencari hal terbaik dari diri mas Bisri yang dihargai orang (memberi nilai tambah). Pasti sudah banyak. Mas Bisri yang paling tahu. Sekedar berbagi cerita, kemarin saya pergi ke Garut dan beli krupuk kulit. Seseorang pernah cerita bahwa bisnis krupuk kulit ini sangat besar, bahkan seorang juragan krupuk kulit yang teman saya kenal adalah seorang milyuner. Dan itu semua hanya dari nilai tambah berjudul teknik membuat krupuk kulit yang enak! :) khairul

    Comment by bisri — October 31, 2005 @ 7:28 am

  2. Gravatar Image
  3. Halo, trims untuk artikel yang luarbiasa ini. Saya mau bertanya nih. Saya dari fak psikologi jurusan psi industri dan organisasi (PIO), skrg sdg menulis skripsi, kurang lebih berkaitan dengan ‘common denominator kesuksesan dari tiga pengusaha besar di kota Y yaitu Ny N (pemilik jaringan M), Ny Y (pemilik dealer M), dan Bpk BW (pemilik S Group). Saya terganjal dengan dasar teori dari ‘apa kriteria perusahaan sukses itu’ dan ‘apa kriteria pengusaha besar’ itu. Mungkin Anda bisa membantu? Saya amat kekurangan referensi buku atau teori. Mungkin dari Jim Collins atau Peter Drucker atau siapapun juga yang kompeten. Terimakasih banyak atas bantuan Anda.

    ::: Sebenarnya saya punya pandangan bahwa perusahaan yang sukses secara tidak langsung telah menggunakan SEPIA dalam aktifitasnya. namun tentu saja konsep ini mungkin tidak dikenal oleh pembimbing Anda. jadi saya usulkan buku “Good to Great” karya Jim Collins sebagai landasan ilmiah riset saudara. Di sana dirumuskan ciri-ciri perusahaan yang ‘good’ dan yang ‘great’. Mungkin ada di gramedia. Kalau Peter Drucker mengatakan bahwa di abad 21 ini aset sesungguhnya adalah ‘knowledge worker’. Silahkan cari topik ini di internet. Saya sendiri punya hipotesis bahwa common denominator dari ketiga pengusaha itu kemungkinan besar adalah PQ. tapi ini mungkin tidak dikenal pembimbing. :)

    Comment by Michael Seno — March 8, 2006 @ 10:07 am

  4. Gravatar Image
  5. artikel bagus.Apa ini artinya kita harus jadi specialist bukan ‘renaissance’ man yang serba bisa?

    ::: sebenarnya maksudnya adalah menjadi yang terbaik dari diri kita, dan diwujudkan dalam karya. kalau serba bisa dan terwujud jadi karya (produktif), wah sangat bagus itu. Tapi kalau serba bisa, lalu karyanya 1/4 matang semua, nah itu baru masalah…. Leonardo da Vinci itu serba bisa dan banyak karya. Demikian juga cendekiawan jaman dulu, mereka ahli matematika, biologi, kedokteran, filsafat, hingga astronomi. Namun perlu diingat, yang tercatat itu adalah manusia-manusia ‘jenius’ dengan produktifitas yang melebihi orang kebanyakan. :)

    Comment by Gede Sumardika — July 13, 2006 @ 9:14 am

  6. Gravatar Image
  7. Halo saya baru pertama kali liat situs ini dan saya tertarik untuk membacanya.Saya anak SMA yg baru naik kelas 3 saya mau nanya bagaimana sih caranya mengetahui bakat/profesi yang cocok untuk saya ke depan?karena saya harus menentukannya sekarang juga.Tolong dibalas ke email saya ya,Thank’s

    Comment by reyhan — July 15, 2006 @ 2:26 pm

  8. Gravatar Image
  9. saya setuju bahwa kita memang harus punya keistimewaan karena kita semua diciptakan untuk saling melengkapi dengan segala keunikan kita yang berbeda-beda.Saat ini saya sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta.Saya sebenarnya dari awal tidak begitu menyukai bagian itu tapi untuk pindah saya kurang berani dan lagi saya juga belum benar-benar yakin saya cocoknya profesinya apa.Saya ingin jadi penulis, kira-kira apa yang harus saya lakukan, kalau mau kuliah saya harus pilih jurusan apa?tolong balas ke email saya ya.terima kasih.

    ::: Di setiap bidang selalu ada profesi penulis! Misalnya, pernah saya baca tentang seorang perempuan insinyur yang kemudian dengan sukarela menulis hal-hal tentang teknologi. Akhirnya malah dia dipercaya memegang kolom teknologi di sebuah penerbitan. Dari situ kemudian dia mendapat banyak kenalan, dan akhirnya karirnya melaju pesat.
    Kisah Robby Johan (itu loh yang pernah jadi dirut bank Mandiri), juga berawal dari inisiatifnya secara sukarela membuat ‘country review’ buat Citibank, saat dia kerja di sana di pertengahan tahun 60-an. Kegiatan sukarela itu ternyata sangat meng-impresi boss nya , sehingga Robby naik karir dengan cepat (dia dianggap yang paling tahu Indonesia).
    Maka, jadilah penulis. Caranya? Ya sering nulis, ‘dengan gaya mu sendiri’. Seperti lukisan, tiap gaya tulisan juga punya penggemarnya masing-masing. :)

    Comment by rosda — August 28, 2006 @ 9:51 am

  10. Gravatar Image
  11. alhamdulillah saya nemu situs ini.sebenernya sku sudh pernah liat buku sepia ini ditoko buku namun nggak tertari membacanya karena aku mengira isi bukunya sama saja dengan buku2 lainnya.namun setelah liat bog ini…subhanallah aku seperti maenemukan pencerahan yang selama ini kucari.artikelnya bagaikan setetes embun ditengah gurun sahara yang panas dikala puasa(saking bernilainya).soal menjadi landak sebenarnya aku baru nulis dibukuku sendiri(untuk renungan sendiri) hal2 yag mirip2 dgn itu yaitu tentang pentingnya menemukan niche sendiri.FIND YOUR NICHE SO YOU WILL FIND YOUR PLACE IN THE WORLD.betul?tq

    Comment by ahmad rojiki — October 1, 2006 @ 4:59 am

  12. Gravatar Image
  13. Dear mas Khairul thanks buat inspirasinya, berkaitan dengan potensi kita apakah memang terbentuk dari lingkungan atau sudah digariskan dari Tuhan ?? Bgmn cara mengenal(indikator) potensi diri kita??wsl

    Comment by rasyidi k — December 17, 2006 @ 6:29 am

  14. Gravatar Image
  15. Mengapa harus ambil icon landak?. Bukannya banyak hewan lain yang mempunyai spesialisasi?. Badak punya cula, ular gak butuh kaki, buaya bisa hidup di 2 alam, hhehheh. Menurut saya, ada saat menjadi umum ada saat menjadi spesialisasi. Saya bercita-cita menjadi pengusaha. Pengusaha itu cirinya sekitit tahu tapi tahu banyak. Sedikit tahu pemasaran, produksi, akutansi, hukum dan aspek2 lainnya. Tugas spesialisasi diserahkan pada bawahan. Spesialisasi profesi adalah ciri pekerja alias karyawan. Bos berpikir holistik sedangkan karyawan berpikir parsial alias spesialisasi. Spesialisasi pengusaha bisa dilakukan pada perusahaan. Artinya, perusahaan A fokus di bidang software. Tapi, banyak pengusaha yang lini bisnisnya gado-gado ya untung terus tuh. Banyak contohnya kok. Yang penting kan yang menangani operasional bukan bos, tapi para karyawan. Contoh, Bill Gates yang pada awalnya bergerak di software sekarang berkembang ke website / search engine(misal msn), game (xbox), multimedia player/MP4, antivirus (window defender) sampe pertambangan (untuk yang ini banyak orang yang tidak tahu). Jadi, menurut saya spesialisasi dilakukan pada awal usaha atau lebih tepatnya dinamakan fokus. Ketika bisnis utama cukup mantap, bisnis bisa menggurita pada sektor lainnya. Ketika akar tunjang kuat, mulai memperbanyak akar serabut.

    Comment by a. purnomo — March 9, 2007 @ 10:10 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2009/12/10//





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here