Doa, Usaha, dan Jawaban Tuhan
Alkisah Ibrahim a.s. mendapat wahyu untuk meninggalkan istri dan anak bayinya di dekat reruntuhan rumah Adam a.s. Sebuah lokasi yang kering dan sangat sepi.
Tak perlu menunggu lama untuk sampai pada keadaan dimana air susu mengering dan bekal air pun habis. Si bayi mulai menangis. Maka paniklah Hajar, sang ibu, berusaha menemukan air untuk pelega haus anaknya. Tampak di kejauhan, di bukit Shofa kilauan air. Hajar berlari ke sana dengan tenaga yang lemah. Ternyata hanya fatamorgana. Tidak ada air. Lalu tampak di kejauhan, di bukit Marwa, kilauan air. Maka Hajar pun berlari sekuat tenaga ke sana. Tak juga ada. Hanya fatamorgana. Berulangkali kemudian hajar berlari ke Shofa, Marwa, Shofa, Marwa, hingga tujuh kali… saat…
Si bayi, Ismail yang menangis dengan keras terus menjejak-jejakkan kakinya tiba-tiba terdiam. Dari bekas jejakan-jejakan kaki mungil itu mengalirlah air yang jernih. Maha besar Allah penguasa langit dan bumi! Ternyata lewat kaki yang kecil itulah jalan diturunkannya air di lembah gersang itu. Sumur zamzam, selama ribuan tahun kemudian terus memberikan kehidupan di lembah Mekkah.
Tugas manusia untuk menyempurnakan doa dan usaha. Tuhan menjawab dengan caraNya yang halus, terkadang tampak jauh dari keberadaan usaha itu.







Terkadang manusia terlebih dahulu tenggelam dalam keputusasaannya. Dengan emosinya mereka mengatakan bahwa masalah yang mereka hadapi sangatlah berat. Sesungguhnya jika mereka yakin dengan usaha mereka, niscaya tuhan pasti menjawabnya.
Comment by prima tiko — September 28, 2005 @ 12:00 pm
apakah penulisan “Tuhan” dengan abjad “t” yang ditulis kecil seperti yang ditulis sdr prima tiko itu hanya menyalahi EYD bahasa Indonesia, ataukah lebih jauh lagi yang artinya itu juga bentuk kurangnya rasa “hormat” dan “merendah” kepadaNya..??
mohon bimbingannya.. saya sampai saat ini masih bingung tentang hal ini..
Comment by no name — April 1, 2006 @ 6:39 am
Bagi saya judulnya, ”niat, doa, ikhtiar dan tawakal serta sabar”. Inilah pola sikap dan pola pikir yang berusaha saya terapkan dalam menjalani hidup. 5 tahapan ini saling terkait dan tak terpisahkan. Seringkali orang menggerutu, usaha atau pekerjaan yang dikerjakan tidak sukses dan tidak memuaskan berdasarkan versi orang tersebut. Tidak sedikit anak muda yang sudah mengklaim suatu usaha itu gagal bila dikerjakan, padahal usaha itu belum dicoba dikerjakan. Saya amati, orang yang memutus 5 rantai pekerjaan ini kurang berhasil dalam usahanya. Anak muda biasanya menginginkan usahanya langsung sukses, banyak customer, penjualan terus meningkat dalam waktu sependek mungkin. Kalau bisa 1 bulan sudah untung. Mereka melupakan aspek kesabaran. Ada juga orang yang menjual produk (misal pekerjaan MLM) mengatakan gagal menjual produk padahal baru menawarkan ke 1-2 orang. Mereka ini melupakan aspek menyempurnakan ikhtiar.
Comment by A. Purnomo — March 9, 2007 @ 10:53 pm
semoga mas tiko hanya salah ketik aja, mari kita ma’fum akan kekurangan orang, saya yaqien beliau membuka situs ini bererti beliau concern thd agama. OK??
Comment by AGUS — November 26, 2008 @ 6:05 am