Lagu, Lirik, Doktrin
Seperti halnya badan memerlukan makanan bergizi, mental kita juga perlu nutrisi yang bergizi. Sesungguhnya hampir setiap saat semua pengalaman kita akan menjadi nutrisi bagi mental. Melihat pemandangan alam, menonton TV, membaca koran, berdiskusi, juga mendengarkan radio.
Memilih makanan bergizi tentu lebih mudah karena biasanya kita cukup sadar ketika makan. Walau demikian seringkali kesadaran tersebut kalah oleh keinginan rasa sehingga kita masih suka banyak minum sirup, makan kue manis, bahkan merokok. Orang Perancis bilang, “Wah, enak sekali sampah ini!” Biasanya kalau sudah sakit, misalnya diabetes, batuk, sakit gigi, kolesterol tinggi, atau asam urat, barulah kita menjaga diet dengan lebih serius.
Lain halnya dengan makanan fisik, kita seringkali tidak perhatian terhadap nutrisi mental. Segala acara TV kita tonton, berita koran hampir semua dibaca, segala lagu didengar. Acara TV terutama gossip rasanya sangat nikmat untuk ditonton. Padahal isinya bukan nutrisi sehat bagi mental. Ibaratnya terlalu banyak minum kopi, memang rasanya enak, tapi benarkah menyehatkan? Untuk urusan nutrisi mental ini kita jarang selektif, padahal hal ini membentuk cara kita berpikir dan bersikap. Lebih jauh dari itu bahkan bisa menanamkan nilai-nilai dalam diri kita.
Bila Anda penggemar lagu, maka pilihan menjadi lebih kompleks. Lagunya enak didengar, sayang liriknya bukan nutrisi bergizi. Pada saat mendengarkan lagu yang enak maka alam bawah sadar kita pun terbuka selebar-lebarnya. Dalam kondisi santai tersebut hampir semua informasi masuk tanpa difilter oleh alam sadar. Jadilah semuanya masuk - nutrisi sehat maupun sampah - ke dalam alam bawah sadar. Di jaman perang dulu, diciptakan lagu-lagu heroik yang sanggup membangkitkan semangat para pejuang. Bisa kita simak misalnya lagu Maju Tak Gentar. Lagu terbukti merupakan salah satu alat doktrin yang efektif. Di jaman sekarang lagu menjadi lebih bervariasi, termasuk maraknya lagu-lagu cengeng, misal saja Aku Orang Termiskin di Dunia. Lagunya enak, tapi syairnya itu loh, sangat berbahaya.
Ingat bahwa alam bawah sadar tidak mampu membedakan realita dan rekaan. Jadi bila Anda terus memborbardir alam bawah sadar itu dengan kalimat “aku orang termiskin di dunia”, “aku tidak dapat hitup tanpa cintamu”, “lebih baik aku mati”, dan yang semacamnya, maka secara tidak sadar kita telah mendoktrin diri sendiri untuk menjadi lemah dan cengeng (lucunya sang penyayi menjadi kaya, tapi yang suka mendengarkan memang makin bermental miskin). Tentu ini proses kontra produktif bagi pengembangan diri yang dijalani tanpa sadar. Lirik yang buruk secara perlahan akan menurunkan kecerdasan karakter, baik kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, maupun kecerdasan aspirasi. Sekali lagi, lagunya enak, sayang liriknya sama sekali tak bergizi. Ibaratnya kalau nonton gossip di TV, presenter dan artisnya enak dilihat, tapi isi beritanya ‘sampah’ yang tidak berguna.
Saya sendiri menyukai banyak lagu Indonesia yang musiknya enak-enak didengar. Sayangnya kalau liriknya jelek dengan berat hati saya batalkan untuk mendengarnya. Akhirnya pilihan jatuh pada lagu asing (karena untuk memahami bahasa Inggris saya masih harus berpikir), atau sekalian lagu Josh Groban yang berbahasa latin (jadi saya tidak paham sama sekali isinya), dan yang paling aman ya musik instrumental. Beruntung ada juga lagu yang musiknya enak dan liriknya menyehatkan, misalnya lagu-lagu Raihan dari Malaysia.
Saya masih mencintai mental saya, dan memilih untuk memberi nutrisi bergizi buatnya. Anda?







Yup mas khairu….. saya juga mengkhawatirkan bayaknya lagu-lagu sampah yang ada. apa mereka tidak mikir kalo itu berpengaruh buruk pada orang. Kaya’nya harus ada pelatihan SEPIA buat para pencipta lagu nih. kesukaan yang sama, saya juga suka lagu raihan….bagus
Comment by Mustahib AR — February 4, 2007 @ 4:49 am
saya sangat menyukai musik. namun saya pernah mendengar bahwa ada aliran musik tertentu tidak diperbolehkan oleh islam. saya masih bingung….
Comment by indah khoirun nisa\\\' — February 19, 2007 @ 8:38 am
Lho, kok sama. Seringkali lagu yang kita suka dan putar merupakan cerminan pikiran dan perasaan yang kita alami. Bagi yang beru putus cinta akan demen banget dengan lagu-lagu patah hati yang melo. Bagi yang barusan jadian suka lagu-lagu cinta yang penuh gombal. Ketika saya mengetik ini, ada 4 lagu yang saya putar2 berkali-kali yaitu Dont give up(Josh Groban bukan Josh grobak), Badai pasti berlalu (Ari Lasso) dan 2 lagu korea (yang pasti gak tahu artinya tapi nadanya menenangkan). Ketika ingin semngat ruhiyah drop, sering dengerin Opick dan Raihan. Memang membantu banget. Terlepas ada yang mengatakan musik berhukum haram karena bersifat membuat hati lupa (4JJI). Saya setuju nasyid tidak haram karena bisa digunakan untuk motivasi.
Daerah Jawa Timur ada budaya ludruk dan ketoprak. Kalau ludruk cenderung menceritakan kehidupan sehari-hari. Di Ludruk ada nyanyian yang bernama ngremo. Ayah sering cerita pada jaman perjuangan kemerdekaan, dijadikan untuk memotivasi orang untuk berjuang melawan penjajahan. Syair-syair ngremo dipakai untuk tujuan ini karena Belanda tidak mencurigai aktivitas Ludruk sehingga aman dari pembrendelan.
Comment by a. purnomo — March 9, 2007 @ 10:00 pm
anda ingin pulsa elektronik yang murah, lengkap dan cepat?? jawabannya ada di www.kingsreload.com dapatkan kenyamanan bersama ‘kingsreload’
Comment by deler pulsa elektronik — April 11, 2007 @ 5:29 am
mas mau nanya klo teroi2 yang berhubungan dengan lirik lagu apa ya??
maaf klo out of topik
hehehe
trims
Comment by herbudi — November 22, 2007 @ 8:25 am