Menulis sebagai terapi emosi
Berkisahlah kemudian Pennebaker tentang veteran perang Vietnam bernama John Mulligan.
“Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan-jalan di jalanan. Menulis telah membuatku merasa punya jiwa,” ujar Pak Pennebaker mengutip pernyataan John Mulligan ketika menyampaikan pengalamannya kepada WebMD.
Menurut tuturan Pennebaker, John Mulligan menjadi punya jiwa setelah dia mengikuti workshop menulis untuk para veteran perang Vietnam yang dipandu pengarang terkenal Amerika Serikat, Maxine Hong Kingston. Maxine menganjurkan kepada para veteran perang tersebut untuk mengungkapkan semua pengalaman traumatis dalam bentuk tulisan. Apa yang diperoleh John Mulligan kemudian? Mulligan, yang berusia 49 tahun ketika menyampaikan pengalamannya kepada WebMD, dapat melahirkan novel berjudul Shopping Cart Soldiers! Dan tak cuma itu, setelah mengikuti workshop menulis setahun kemudian dapat berdamai dengan dirinya. Dia dapat memindahkan pengalaman buruknya di medan perang ke dalam kata-kata. Pikirannya pun menjadi jernih dan - sebagaimana disampaikannya sendiri- “jiwanya menjadi eksis”.
“Lusinan penelitian telah membuktikan bahwa kebanyakan orang yang pernah memiliki trauma buruk di masa lalunya akan menjadi lebih baik dan lebih sehat setelah menulis,” demikian ujar Pennebaker.
Journal of the American Medical Association, edisi 14 April 1999, melaporkan bahwa menulis secara ekspresif dapat menurunkan simptom asma dan rheumatoid arthritis. Joshue Smith, Ph.D., asisten profesor psikologi dari North Dakota State University dan koleganya, melakukan penelitian dengan meminta sebanyak 70 penderita asma dan rheumatoid arthritis untuk menulis tentang peristiwa paling menekan dalam kehidupannya.
Partisipan dari penelitian tersebut dianjurkan untuk menulis tentang luka masa lalunya selama 20 menit dalam 3 hari. Kelompok lain yang terdiri dari 37 pasien diminta untuk menulis tentang rencana mereka pada hari itu. Empat bulan kemudian, 47 persen dari kelompok yang menulis tentang trauma masa lalunya menunjukkan perbaikan signifikan. Mereka rata-rata merasakan berkurangnya rasa sakit berkaitan dengan rheumatoid arthritis yang mereka derita. Kapasitas paru-paru pun dikabarkan meningkat bagi para penderita asma. Sementara itu hanya 24 persen yang menunjukkan kemajuan seperti itu bagi mereka yang hanya menulis kehidupan sehari-harinya.
Para peneliti tak tahu mengapa menulis tentang peristiwa yang menyakitkan dapat memperbaiki kesehatan. Bisa jadi, menyalurkan emosi secara bebas dan juga mengalirkan luka masa lalu secara ekspresif dalam bentuk tertulis telah membantu seseorang untuk membangun jalan untuk berdamai dengan masa lalunya. “Pada pokoknya,” pesan Pennebaker, “bagi yang mengalami keguncangan jiwa atau mengalami depresi, bergegaslah menulis. Menulislah secara sangat bebas tanpa memperdulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin.”
* Dikutip dari buku Bu Slim & Pak Bil : Menggagas Kembali Pendidikan Berbasis Buku, karya Hernowo, Penerbit MLC 2004.







menulis bisa mengurangi depresi seperti halnya jika para perempuan punya masalah membicarakan masalahnya dengan sesama temannya. Tetapi jika dibicarakan terus bisa-bisa stressnya beralih ke teman yang menerima curahan masalah tersebut (jangan-jangan psikolog pada stress..) jika kita tuliskan dalam kertas, maka masalah tersebut akan berpindah ke media lain yaitu kertas. Sehingga beban yang ada didalam jiwa seseorang secara perlahan-lahan akan terangkat.
Mungkin begitu…
Comment by lelita — June 1, 2005 @ 2:36 am
menulis sebagai terapi emosi? barangkali saya juga begitu ya? di sini saya tidak punya temen ngerumpi, padahal pada dasarnya saya cerewet. saya juga tidak pernah belajar bagaimana cara menulis yang baik dan benar. kalau pengen nulis ya nulis aja. bonusnya, saya punya banyak teman…
Comment by pipin — June 2, 2005 @ 3:53 pm
menulis memang memang bisa sebagai terapi emosi, tetapi tidak semua orang dengan menulis maka emosi dapat tertuang. bagaimana penangannya?
>>> katanya, dengan terus menulis walaupun tidak beraturan, lama-kalamaan semua yang membebani bisa tertuang. sebenarnya aliran psikoanalisis yang menggunakan metode menggambar untuk terapi pasien sakit jiwa juga memiliki kemiripan dengan metode menulis ini. khairul
Comment by rut — September 23, 2005 @ 12:48 pm
setidaknya melalui tulisan kita bisa lebih jujur berbicara ketimbang kepada orang lain. Lagipula kerahasiaannya lebih terjamin karena hanya diri kita dan tuhan yang tahu
Comment by prima tiko — September 28, 2005 @ 11:55 am
Setiap saya sumpek, buku harian tempat saya tuangkan semuanya, meski harus mencoret tanpa aturan tetapi hasilnya melegakan.Saya gunakan buku harian sejak SMP dan sekarang anak saya sudah 2, ketika tidak bisa menuangkan masalah secara lisan kepada suami, saya menuliskannya di buku yang akhirnya bisa dibahas dan masalah teratasi.
::: Betul sekali bu! Tks atas sharing pengalamannya. khairul
Comment by Th.Nunik Dwi Hartanti — November 30, 2005 @ 1:39 am
Saya setuju sekali, dan selalu menganjurkan ke anak anak saya kalau sedang marah atau sedih buka komputer terus tulis apa yang menjadi pikiran mereka kalau mau memaki orang makilah dalam komputer atau sedih menangislah bersama tulisan dikomputer, hasilnya dilain waktu mereka menunjukan tulisannya sendiri dengan tertawa tawa saya disuruh membaca hasilnya tidak ada yang dirugikan tapi luapan emosi sudah tersalurkan semoga bermanfaat kepada yang lain
Comment by panti — September 9, 2006 @ 2:51 pm
Ada-ada saja ya, terapi masalah dan depresi dengan menulis. Sejak SMP, kalau ada permasalahan asmara (hihihiii), saya tuliskan ke kertas. Awalnya sih, ikut-ikut teman. Eh..gak tahu kenapa…lama-lama jadi puisi. Hingga sekarang, Saya sering menemui tantangan menemukan kata-kata yang pas dan precise untuk menggambarkan masalah kita. Bagi saya, menulis permasalahan mungkin tidak menyelesaikan masalah. Tetapi, catatan beragam permasalahan kita dimasa lampau dan bagaimana kita bisa menyelesaikan fase itu dalam perjalanan hidup, memberikan saya pelajaran untuk bersikap bijak. Apapun masalahnya, katakan dalam diri, ”badai pasti berlalu”, persis yang dinyanyikan oleh Ari Lasso ketika teks ini ditulis. Kalau dimasa lalu kita bisa menjalaninya, mengapa kita tidak bisa menyelesaikan permasalah kita di hari ini?. cayo
Bagi saya, apapu permasalahan yang kita hadapi, carilah kesempatan, suasana atau apapun dimana kita bisa merasa nyaman. Dan sejenak melepaskan stress dikepala. Sejenak naik ke atas pohon di hamparan hutan dunia. Menyalurkan beban. Distribusi beban ini bisa bermacam-macam, tergantung orang. Ada perusahaan di Jepang yang menyediakan sansak tinju di dalam kantor para eksekutif. Kalau para seksekutif stres, mereka diberikan kesempatan untuk melampiaskan suntuk dengan meninju sansak sesuka mungkin. Sedangkan diperusahaan lain, pada atap gedung perusahaan disediakan taman buatan (roof garden). Taman ini ditujukan untuk menenangkan pikiran dengan melihat hijauan dan aneka warna tanaman. Bisa jadi, menulis menjadi salah satu kendaraan terbaik untuk menggerakkan dan mengeluarkan beban dari benak dan dada
Comment by a. purnomo — March 9, 2007 @ 9:44 pm
aku teringat dengan kata imam Ali “ikatlah ilmu dengan menulis ” sebuah kata pendirong semangat untuk mendorong seseorang untuk menulis , ya enaknya ketika bete banget itu menulis ada sel-sel adrenalinku berjalan dan lancar itu baru kusadari setelah aku berumur 35 th , jadi aku mulai sadar betapa pentingnya menulis dan membaca
Comment by mustofa — May 7, 2007 @ 7:44 am
klo terapinya dg menulis komen, bisa?
Comment by alin — March 4, 2008 @ 10:24 am
shiif, tp q nggak bisa nulis tuch gmn?
Comment by siswanto — June 7, 2008 @ 2:48 am
hum, it’s interesting..
bole tau gak, nyari penelitian tentang menulis dimana ya???
atau kalau ada…boleh kah saya minta?
=D
Comment by Luxmaning Hutaki — July 14, 2008 @ 6:24 am
ya pak … saya sudah menrapkan terapi ini … lumayan jua
AgungPurnomo.com
Comment by agung purnomo — November 25, 2008 @ 4:52 am